Sejarah Berdirinya Vihara Giri Ratana Puja

Melihat Vihara Giri Ratana Puja yang saat ini berdiri kokoh nan gagah, tentu tidak banyak yang mengetahui bahwa perjalanan panjang dan berliku-liku mewarnai sejarah berdirinya Vihara ini. Untuk itu, sebagai kontemplasi mengenang semangat, keyakinan dan kemurahan hati umat dan para donatur yang budiman, kami bermaksud menceritakan kembali sejarah berdirinya Vihara Giri Ratana Puja secara singkat. Kami mohon maaf jika timeline, khususnya tanggal dan bulan peristiwa diawal-awal berdirinya vihara ini tidak dicantumkan, karena dokumen arsip pembangunan vihara telah hilang tertimbun oleh tanah dan reruntuhan bangunan saat terjadi bencana gempa bumi 7,0 SR pada tanggal 5 Agustus 2018 silam.  

 


Pada periode sebelum tahun 2000, umat Buddha yang berada di dusun Panasan Daya harus berjalan cukup jauh melewati perkebunan warga menuju Vihara Brahma Loka yang berada di dusun Tuban. Kondisi wilayah yang berbukit, jalan setapak, dan belum adanya aliran listrik, mendorong inisiatif beberapa tokoh umat, seperti Bapak Suartadi (Ketua), Bapak Murtinom (Sekretaris), dan Alm. Bapak Warti (Bendahara) untuk mengkoordinir umat guna membangun sebuah Vihara yang lokasinya lebih dekat dan mudah dijangkau.


Setelah melakukan musyawarah, akhirnya diputuskan bahwa Vihara tersebut akan dibangun di Dusun Panasan Daya, RT.006, Desa Tegal Maja, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara. Tepatnya di area hutan adat "Pepujan Daya". Pada sekitar awal tahun 2000, peletakan batu pertama pembangunan vihara dihadiri oleh YM. Bhikkhu Sudhimano (kini telah berhenti dari keanggotaan Sangha dan menjadi Upasaka) yang pada kesempatan yang sama juga memberikan nama Giri Ratana Puja. Secara harfiah, nama ini berasal dari bahasa pali yang memiliki makna gunung tempat melakukan puja kepada Permata, yaitu Buddha, Dhamma, dan Sangha.


Awalnya, pembangunan Vihara dilakukan sepenuhnya melalui swadaya umat. Namun dengan kondisi masyarakat yang sebagian besar berprofesi sebagai petani dengan tingkat ekonomi yang masih rendah, pembangunan mengalami kendala keuangan. Kondisi ini juga diperparah oleh infrastruktur wilayah, seperti jalan, listrik, dan air yang masih sangat tertinggal sehingga menimbulkan cost yang lebih besar dalam proses pembangunan. 


Melalui perjuangan dan kesabaran seluruh umat, kamma baik berbuah melalui YADI (Yayasan Abdi Dharma Indonesia) yang memberikan bantuan pembangunan Vihara sebesar Rp. 10.000.000 (sepuluh juta rupiah). Dana ini kemudian digunakan untuk melanjutkan pembangunan hingga proses finishing bangunan vihara seperti plester tembok, pembelian dan pemasangan kramik, dll. Pembangunan Vihara inipun selesai dan dapat digunakan sebagai tempat puja bhakti dan kegiatan keagamaan lainnya.


Desain Altar Pertama Vihara Giri Ratana Puja
Tampak Depan Altar Vihara Giri Ratana Puja (2000-2013)

Namun amat disayangkan, pada 22 Juni 2013 terjadi bencana gempa bumi yang menyebabkan bangunan Vihara mengalami kerusakan parah, sehingga tidak aman untuk digunakan. Selain bagian atap dan plafon, kerusakan paling parah terjadi disisi tembok bagian belakang yang retak dan terpisah dari sisi-sisi tembok bagian samping. Bagian podasi belakang Vihara juga jebol dan hampir runtuh. Kontur tanah yang miring diduga menjadi faktor penyebab yang memperparah dampak gempa terhadap bangunan. 

Setelah musyawarah bersama, serta melihat tingkat kerusakan yang terjadi pada bangunan Vihara, maka umat memutuskan untuk membongkar seluruh bangunan. 

Perjuangan untuk memiliki tempat ibadah sendiri pun dimulai kembali dari nol. 

Semangat gotong royong, bahu membahu masih bergelora dihati umat. Kali ini, selain melalui swadaya masyarakat, banyak donatur yang memberikan bantuan, baik dalam bentuk uang maupun barang untuk pembangunan Vihara. Beberapa pihak yang terlibat antara lain Sangha Teravadha Indonesia, YADI, Kementerian Agama RI, serta donatur-donatur lain yang tidak dapat disebutkan satu per satu. 

Setelah berbagai daya upaya dan dibantu oleh kemurahan hati para donatur tersebut, bangunan Vihara kembali berdiri gagah dengan wajah baru dan desain yang dirancang lebih aman untuk mengantisipasi terjadinyabencana serupa di masa mendatang. Dari bangunan vihara yang semula menghadap ke arah timur, kini bangunan vihara menghadap ke arah selatan. 


Tampak Depan Altar Vihara Giri Ratana Puja (2013-2018)


Dokumentasi Proses Pembangunan Ulang (2) Vihara Giri Ratana Puja

(Geser Gambar Untuk Melihat Yg Lainnya)


#
#
#
#
#
#
#
#
#
#
#
#
#
#
#
#
#
#


Namun lagi-lagi, pada 5 Agustus 2018, bencana gempa bumi berkekuatan besar (7,0 SR) kembali melanda pulau Lombok. Kali ini, tidak hanya bangunan Vihara yang mengalami kerusakan parah, namun hampir semua rumah warga pun rata dengan tanah. Bahkan menurut data Pemerintah Daerah, hampir 90% bangunan di Kabupaten Lombok Utara mengalami kerusakan.


Dokumentasi Kondisi Vihara dan Rumah Umat Pasca Gempa

(Geser Gambar Untuk Melihat Yg Lainnya)

#
#
#
#
#
#
#
#


Ditengah kesedihan yang mendalam, umat Buddha di pulau Lombok, khususnya umat Vihara Giri Ratana Puja mulai menata hidup kembali. Sembari membangun kembali rumah yang telah hancur melalui program bantuan Rumah Tahan Gempa (RTG) yang diberikan oleh Pemerintah, umat menyadari bahwa keberadaan Vihara sebagai tempat ibadah juga amat penting, sehingga harus menjadi prioritas untuk dibangun kembali. 


Seolah tak pernah padam setelah sekian kali ditimpa bencana, dengan semangat gotong royong disertai kekuatan keyakinan kepada sang Tiratana, pembangunan kembali Vihara Giri Ratana Puja dilaksanakan untuk ke tiga kalinya. Pada tanggal 27 Juli 2019, peletakan batu pertama pembangunan vihara  dihadiri oleh anggota Sangha, pembimas Buddha Provinsi NTB, Pembimas Buddha Provinsi Bali, Pemerintah Daerah yang diwakili oleh Camat Tanjung, perwakilan organisasi keagamaan, tokoh masyarakat dan tokoh agama, serta seluruh umat Vihara Giri Ratana Puja. 


Dengan kondisi ekonomi yang belum stabil sebagai dampak bencana gempa bumi, Pembangunan ulang Vihara Giri Ratana Puja sangat terbantu oleh kemurahan hati para donatur. Panitia pembangunan Vihara yang diketuai oleh Bapak Rudianto, S.Ag, beserta seluruh umat menempuh berbagai upaya untuk mendapat dukungan dari berbagai pihak, baik bantuan berupa uang maupun barang atau bahan material bangunan. Terakhir, dana pembangunan Vihara sebagian besar berasal dari kemurahan hati para donatur melalui Yayasan Dana Everyday. Anumodana kami sampaikan kepada seluruh donatur yang telah membantu. Semoga jasa kebajikan yang telah dilakukan membawa kebahagiaan dan kemakmuran kini dan dikehidupan berikutnya. Sadhu.


Setelah hampir dua tahun, bangunan Vihara Giri Ratana Puja telah kembali berdiri kokoh. Dengan desain tahan gempa, diharapkan vihara ini dapat diwariskan dari generasi ke genarasi sebagai tempat yang layak dan nyaman bagi seluruh umat untuk menjalankan berbagai kegiatan keagamaan, sosial dan kemasyarakatan. Semoga vihara ini menjadi tempat lestarinya Buddha Dhamma, menjadi tempat yang sesuai bagi para Bhikkhu dalam membina diri dan umat, demi kebahagiaan semua makhluk.


Altar Vihara Giri Ratana Puja
Tampak Depan Altar Vihara Giri Ratana Puja (2018 - sekarang)


Dokumentasi Proses Pembangunan Ulang (2) Vihara Giri Ratana Puja 

(Geser Gambar Untuk Melihat Yg Lainnya)


#
#
#
#
#
#
#
#
#
#
#
#
#
#
#
#
#
#
#
#
#
#
#
#
#
#
#
#
#


Posting Komentar

Klarifikasi Keberadaan Yayasan Karuna Dhamma Mitra

Menanggapi berbagai pertanyaan yang muncul ditengah masyarakat, khususnya dikalangan umat Buddha yang berada diluar pulau Lombok mengenai ke...

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search